I wrote this essay six years ago for a final assignment in a class I took at FSRD ITB (Mind you that I was not enrolled as student in this faculty, I was one of the SITH people). I stumbled upon this essay today, and I am very grateful that I did (and surprised that I can actually write a complete composition in Bahasa Indonesia!).
This essay is a sound reminder of who I am and what I am destined to be in life. I pasted it as it is with the original heading and highlighted the important lines. I sincerely hope anyone reading can find this reinvigorating.
Ujian Akhir Semester
Psikologi Seni (SR4204)
Dr. Irma Damajanti, M.Sn. Ardhana Riswarie, MA. Putri Fidhini, S.Sn.
ESSAY APRESIASI KARYA SENI
Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung 2016
Ini adalah kali pertama saya pergi ke galeri seni dengan sengaja. Dari pengalaman yang baru ini, saya menemukan satu karya yang menarik perhatian saya lebih dari pada karya lainnya yang dipamerkan dalam pagelaran seni di Galeri Seni Nasional yang saya kunjungi. Sebuah karya dari Asmudjo J. Irianto, berhasil membuat saya terdiam untuk beberapa saat agar saya dapat mengamati dan akhirnya menikmati karyanya yang bertajuk “Untitled”.
Karya seni tersebut terlihat seperti gabungan karya seni patung dan instalasi objek lainnya yang dapat ditemukan sehari-hari. Hal yang mencolok dari karya ini adalah tumpukan buku menjulang hingga menyentuh ke langit-langit ruangan, terletak tepat di atas kepala patung yang berdiri tegak di atas seekor kuda hitam yang memakai sepatu roda di keempat tapal kakinya. Hal ini menarik karena terdapat hubungan yang sangat erat dari ketiga keadaan tersebut, yakni keadaan statis dari ketiga kombinasi tersebut memang terlahir dari posisi tiga hal itu sendiri. Selain itu, ada beberapa objek yang dijinjing oleh patung, yaitu tas kerja, sandal jepit, dan ember besi. Ketiga objek ini nampaknya memiliki arti simbolisme tersendiri yang ingin disampaikan oleh senimannya, begitu juga warna patung yang putih bersih yang terlihat sangat kontras dengan kuda hitam legam yang ia pijaki. Pada bagian belakang kuda, tepat di bawah ekornya, terdapat ember besi lain. Berbeda dengan ember yang dijinjing oleh patung, ember di bawah kuda ini berisi beberapa kuas lukis. Kebanyakan objek yang terdapat dalam karya ini merupakan benda-benda yang umum dijumpai pada keseharian. Merujuk ke hasil tinjauan pustaka mengenai seniman yang membuatnya, kebanyakan elemen pada karya ini dapat pula dijumpai dalam karya-karya lainnya milik seniman yang sama. Artinya objek-objek yang ditata ini adalah suatu icon atau kekhasan tersendiri dari senimannya. Selain itu, keseluruhan hasil karya ini menciptakan bayangan yang begitu unik pada dinding ruang pameran.
Hal yang pertama kali menarik perhatian saya dari karya ini adalah tumpukan buku yang berada di atas kepala patung. Saya takjub dengan dua hal mengenai detil ini. Pertama, saya takjub karena penataan yang sedemikian rupa sehingga memungkinkan sebanyak itu buku untuk tegar menjulang di atas kepala patung. Untuk seorang awam yang tidak memiliki keterampilan seni seperti saya, hal ini tentu menarik perhatian. Kedua, saya berusaha mengidentifikasi setiap judul buku yang dimiliki oleh masing-masing buku pada tumpukan tersebut. Saya sangat kagum karena ada banyak sekali judul buku nyata dari berbagai disiplin ilmu .Kemudian saya habiskan beberapa menit untuk mengamati detil dari setiap karya ini hingga saya menyadari bahwa kuda yang dipijak oleh patung memakai sepatu roda di keempat kakinya. Di titik ini lah saya menemukan hubungan yang telah sebelumnya saya ceritakan. Kuda hitam dapat dengan mudah bergeser tempat karena roda pada tapalnya. Karena hal ini, patung yang menggambarkan seorang manusia itu dapat pula terjatuh dari pijakannya bersamaan dengan kuda yang bergeser karena roda-roda di kakinya. Namun, karena tumpukan buku di atas kepala patung manusia cukup tinggi dan kokoh untuk mencapai langit-langit, maka keadaan statis pun dicapai oleh patung manusia dan juga kuda. Saya melihat hubungan ini dan seketika banyak sekali versi cerita yang terbentuk di pikiran saya. Terlepas dari pesan asli yang ingin disampaikan oleh senimannya serta mengingat kembali bahwa mengapresiasi karya seni pada akhirnya bukanlah untuk menilai karya itu, melainkan untuk mengenal diri sendiri, maka bagi saya cerita yang paling saya sukai adalah tentang bagaimana pengetahuan, yang diwakili oleh tumpukan buku, dapat meningkatkan martabat manusia dan dalam waktu yang sama mempertahankan kondisi agar tidak goyah. Kuda hitam yang memakai tapal roda bagi saya terlihat seperti lambang dari yang ketidakberpendirian, mudahnya terjadi pergeseran dan ketidakstabilan. Kenyataan bahwa kuda adalah hewan, terasa seperti perasaan tidak adanya kebebasan dan eksploitasi yang dialami oleh hewan, terutama kuda yang seringkali menjadi salah satunya. Di atas hewan, ada manusia yang dianggap lebih tinggi merujuk kepada posisi patung manusia yang diletakkan di atas punggung kuda, memijaknya. Tanpa buku di atas kepalanya, manusia mungkin masih tetap bisa berada di atas kuda. Namun, sudah pasti kedudukannya tidak akan statis. Dengan adanya tumpukan buku, atau dalam konteks ini saya pandang sebagai berbagai ilmu pengetahuan bagi manusia yang pada akhirnya menjadikan manusia bijaksana, dapat menjaga posisi manusia dan juga kuda sehingga tidak terombang-ambing. Bagi saya, pesan yang tertangkap adalah bahwa ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan dapat menopang manusia tegak berdiri di atas kondisi alami manusia yaitu kebimbangan dan ketidaktahuannya sehingga ia dapat mengontrol keadaan di sekitarnya agar tetap tenang dan berada lebih tinggi dari sekedar objek yang dieksploitasi. Sandal jepit dan ember serta tas kerja yang dibawa oleh patung manusia mendemonstrasikan beberapa hal yang dilakukan oleh manusia, seperti bekerja, belajar, berjalan, dan tanggung jawab lainnya yang harus dijalani dan dipertanggungjawabkan oleh manusia. Posisi patung yang menghadap arah berlawanan dengan kepala kuda saya lihat sebagai penekanan terhadap kontras antara patung manusia dan kuda hitam yang dipijakinya, sama seperti pemilihan warna yang kontras untuk keduanya. Ember besi di belakang kuda merupakan hasil akhir dari semua elemen yang telah disebutkan. Hasil akhir ini
diwakili oleh kuas yang menurut saya erat kaitannya dengan seni, atau pada akhirnya saya mengartikannya menjadi the way we live our lives are eventually different arts which are unique from one another.
Melihat karya ini saya merasa terpukau, menjadi bersemangat, tergugah untuk terus belajar dan memahami hingga akhirnya mencapai tahap kebijaksanaan. Saya juga menyadari bahwa terkadang sekumpulan objek sehari-hari yang disusun sedemikian rupa dapat menyampaikan suatu makna yang dalam, tentu saja tergantung kepada seberapa jauh kita bersedia menangkap pesan itu dan memahaminya. Walau demikian, saya mengaku tetap merasa sedikit bingung dan penasaran dengan apa yang sebenernya ingin disampaikan oleh senimannya melalui karya ini. Apakah sama pemikirannya dengan apa yang saya tangkap, ataukah sesuatu hal lain yang mungkin sangat bertolak belakang dengan apresiasi yang saya tuangkan. Apapun jawabannya, mungkin inilah yang disebut memberikan ruang pada kreasi, yaitu untuk meninggalkan misteri sehingga pada akhirnya dapat menjadi motivasi untuk menciptakan seni saya sendiri.